MKKS SMA Kabupaten Bogor
Maju Bersama Hebat Semua

Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - hendro

Halaman: 1
1
Umum / MENANTI CETAK BIRU (BLUEPRINT) PENDIDIKAN NASIONAL
« pada: Mei 01, 2020, 04:23:17 PM »
MENANTI CETAK BIRU (BLUEPRINT) PENDIDIKAN NASIONAL

Dr. H. Bambang Supriyadi, M.Pd


     Berbicara tentang pendidikan artinya kita berbicara tentang kejayaan suatu bangsa dan negara. Pendidikan adalah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan bangsa ini menuju kecemerlangan masa depan. Mengabaikan masalah pendidikan artinya sama saja dengan membiarkan nasib bangsa ini menuju jurang kehancuran.
     Semua komponen bangsa perlu sadar bahwa sesungguhnya urusan pendidikan ini adalah urusan semua pihak. Pendidikan adalah garda terdepan dalam perubahan teknologi dan jaman. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang cerdas dan memiliki daya saing di tingkat global, tentunya hal ini bisa dicapai bila ada reformasi total di bidang pendidikan. Reformasi total dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi dengan berpedoman pada cetak biru pendidikan nasional.
     Perubahan kabinet diharapkan memberi semangat baru dalam perbaikan dunia pendidikan di Indonesia, berbagai harapan ditumpukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di bawah kepemimpinan "Mas Menteri" Nadiem Makarim, mulai dari pencanangan program rencana membuat cetak biru pendidikan indonesia, dan istilah merdeka belajar yang diyakini merupakan bagian dari cetak biru. Cetak biru, merupakan bentuk komitmen dari terciptanya pendidikan yang lebih baik dan berjangka panjang. Tuntutan akan peningkatan layanan dan mutu pendidikan adalah merupakan salah satu dampak keberhasilan pembangunan dalam perubahan sosial, antara lain meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan. Cepatnya tuntutan ini tidak seimbang dengan daya dukung berbagai fasilitas dan upaya kerap melahirkan isu-isu aktual seperti tersebut di atas. Diantisipasi bahwa tuntutan ini cenderung semakin menguat selaras dengan pencapaian dari keberhasilan pembangunan itu sendiri. Isu-isu aktual pendidikan memerlukan perhatian dari berbagai pihak, sesuai dengan lingkup tanggung jawab pendidikan.
     Berawal dari asumsi kondisi pendidikan Indonesia melihat hasil beberapa kajian ilmiah baik dari luar negeri seperti PISA (Program for International Student Assessment) atau Program Penilaian Pelajar Internasional, World’s Most Literate Nations,TIMMS (Trends in International Mathematics and Science Study adalah studi internasional tentang kecenderungan atau arah atau perkembangan matematika dan sains, PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) adalah studi internasional tentang literasi membaca untuk siswa sekolah dasar. Hasil dalam negeri seperti Ujian Nasional, menunjukkan selama hampir 20 tahun kondisi pendidikan Indonesia stagnan berada di posisi salah satu terbawah di dunia. Bahkan untuk urusan paling fundamental dalam pendidikan yaitu membaca. Suatu kondisi menyedihkan bahkan mungkin memalukan mengingat anggaran besar yang telah dikeluarkan untuk mencerdaskan bangsa ini baik dalam bentuk APBN, APBD, bantuan luar negeri, CSR, maupun dana masyarakat. Untuk memperbaikinya kita bersama harus mengakuinya. Artinya bukan dalam konteks mencari siapa yang salah melainkan dari titik mana kita harus bergerak memperbaikinya. Dengan demikian langkah perbaikan akan berjalan tanpa beban karena harus menutup-nutupi kondisi sebenarnya.

Masukan Bagi Cetak Biru Pendidikan Nasional
     Cetak biru pendidikan nasional adalah disain besar menyeluruh yang mensinergikan seluruh elemen dan komponen bangsa termasuk juga melibatkan dan mengikut sertakan semua kementerian dalam perumusannya. Cetak biru ini sangat diperlukan agar arah pendidikan Nasional memiliki pedoman, tolak ukur dan arah secara konprehensif, terencana dan bersifat jangka panjang tanpa dipengaruhi pergantian kekuasaan politik. Tidak dapat dipungkiri kebijaksaan pendidikan di Indonesia seringkali berubah arah yang dipengaruhi oleh politik yang sedang berkuasa.
     Selain itu, juga sebagai bentuk ditampungnya saran dan masukan dari berbagai pelaku pendidikan, pemerhati pendidikan dan masyarakat terhadap kemajuan pendidikan di tanah air termasuk grand teori yang akan dipakai. Penulis berpendapat outline dari rancangan cetak biru pendidikan nantinya minimal mencakupi empat hal, diantaranya :
1. akses,
2. mutu,
3. relevansi,
4. daya saing, serta tata kelola pendidikan.
     Keempat hal tersebut bisa menjawab situasi dan kondisi indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar dengan memperhatikan ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan masyarakat semesta. Cetak biru ini juga diharapkan menyangkut      learning to know, learning to do, learning to be, dan yang terpenting learn to live together.

     Pengendalian mutu dapat menggunakan teori yang dipopulerkan oleh W. Edwards Deming sehingga terkenal dengan nama siklus Deming, merujuk standar pada tujuh langkah berikut:
1. Menggunakan waktu dua jam pada tiap akhir minggu bertemu dengan administrator atau guru untuk menghimpun data.
2. Menganalisis data dan menemukan kekuatan, gali terus dan dapatkan peluang.
3. Mengenali yang benar-benar siswa perlukan sehingga kurikulum, pembelajaran, dan kompetensi guru dapat memenuhi kebutuhan itu.
4. Merumuskan kembali atau merevisi tujuan yang telah ditetapkan.
     Tujuan hendaknya memenuhi kriteria smart (spesifik, measurable, attainable, realistic, and timely) dan relevan
5. Mengidentifikasi strategi khusus untuk mencapai target mutu terbaik.
6. Menetapkan indikator produk sebagai target strategi.
7. Mengembangkan perencanaan, jadwal dan menganalisis pemenuhan prosedur dan produk.

     Apabila akan mengunakan pendapat Thomas L Weelen dan David Hunger mensyaratkan empat langkah besar proses pengembangan pendidikan, yaitu;
1.  Memindai lingkungan internal dan eksternal,
2. Perumusan strategi; meliputi visi, tujuan, pemilihan strategi, dan penetapan kebijakan,
3. Implementasi strategi; meliputi, program, anggaran, dan prosedur,
4. Evaluasi dan kontrol kinerja.
     Uraian ini dapat dinyatakan bahwa penerapan standar pada prinsipnya merupakan usaha untuk menerapkan berbagai indikator mutu yang kriterianya ditentukan dalam perencanaan. Kriteria yang ditetapkan bergantung pada tinggi rendahnya tujuan yang ditetapkan oleh tiap lembaga. Hal yang perlu menjadi dasar dari penentuan kriteria yaitu memilih ruang lingkup mutu sesuai dengan sumber daya yang lembaga miliki dan sesuai dengan target pendidikan nasional untuk mensejajarkan dengan target mutu pendidikan dalam konteks global.

Tujuan Pendidikan
     Tujuan pendidikan di masa depan yang mampu mengantisipasi perubahan zaman. Selain itu, tentang pendidikan yang mampu menyiapkan anak-anak bangsa menghadapi ketatnya persaingan global. Poin-poin seperti Merdeka Belajar dan Guru Penggerak menjadi poin terpenting dalam peningkatan pendidikan di Indonesia. Merdeka Belajar masuk dalam cetak biru sebelumnya,  Blue print untuk ke mana ini arah pendidikan sudah dibuat tapi ini tidak bisa tergesa-gesa. Membutuhkan benar-benar (waktu) karena kita sudah banyak materi, riset, tapi harus dikemas suatu strategi, konsep Merdeka Belajar yang baru diluncurkan adalah salah satu bagian dari blue print sistem pendidikan Indonesia.

Tenaga Pendidik
     Dalam cetak biru pendidikan Indonesia, definisi guru di masa depan seperti dalam program "Merdeka Belajar" tak boleh salah penafsiran. Guru merdeka guru mandiri atau apapun istilah-istilah yang disematkan terhadap guru masa depan seharusnya terdefinisi dengan baik. Guru tak boleh dipahami parsial oleh masyarakat dan pegiat pendidikan. Cetak biru pendidikan seharusnya bisa menjelaskan apa istilah-istilah yang di dalam program pemerintah. Jangan sampai definisi-definisi itu parsial definisi-definisi itu tidak utuh dan kemudian banyak orang membuat tafsir yang salah atau berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh pemerintah saat ini. Cetak biru pendidikan harus dipahami bahwa cetak biru pendidikan ini    harus disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang mungkin sekitar 50 sampai 100 tahun kemudian apa yang ingin dicapai.
     Tata kelola dan kualitas guru. Perlu pembenahan serius pemerintah untuk lembaga pendidik dan tenaga kependidikan (LPTK). Hal ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan mutu guru adalah mutu siswanya. Dari berbagai permasalahan muncul dalam tata kelola pendidikan Indonesia, mutu guru adalah salah satu yang paling atas apalagi jika kita mengacu pada hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang telah dilakukan Kemdikbud. Beberapa langkah yang dapat dilakukan bagi para tenaga pendidik.
Dilakukan seleksi ulang, siapa-siapa saja memang layak berprofesi sebagai pendidik (tidak semua orang memiliki minat dan bakat sebagai pendidik). Karena jika dipaksakan pasti hasilnya tidak maksimal dan berakibat buruk bagi generasi penerus bangsa. Bagi para pendidik yang layak, mereka harus diberikan pelatihan dengan konsep dan strategi matang.
     Manajemen guru ASN sebaiknya dikelola pemerintah pusat, anggaran untuk gaji dan tunjangan bisa tetap berupa transfer daerah. Guru harus memiliki izin praktik mengajar yang harus diperbaharui secara berkala dan sebaiknya lisensi ini tidak dikeluarkan pemerintah semata melainkan melalui organisasi profesi guru atau sinergi keduanya. Dengan demikian tunjangan profesi guru ditentukan oleh lisensi tersebut diatas. Rekrutmen calon guru merupakan hal yang penting dan utama, pabrik guru alias LPTK yang memang harus di transformasikan agar mampu mendidik calon guru yang sesuai dengan tantangan Revolusi Industri 4.0.

Pembiayaan Pendidikan
     Pendidikan “capital of human  investment” mempunyai peranan penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhdap produktivitas, tetapi juga berpengaruh terhadap fertilitas (angka kelahiran) masyarakat. Dengan pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam meghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Jadi, pada umumnya pendidikan diakui sebagai investasi sumber daya manusia. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap serta produktivitas.
     Dalam hubungannya dengan biaya dan manfaat, pendidikan dapat dipandang sebagai salah satu investasi (human investment) dalam hal ini, proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata, akan tetapi merupakan suatu investasi. Hal yang sama diungkapakan pula oleh Mark Blaug (2016:19) yang menyatakan bahwa :
“…. A good case can now be made for the view that educational expenditure does partake to a surprising degree of the nature of investment in enhanced future output. To that extent, the consquences of education in the sense of skills embodied in people may be viewed as human capital, which is not to say that people themselves are being treated capital. In other word, the maintenance and improvement of skills may be seen as investment in human beings, but the resources devoted to maintaining and increasing the stock of human beings remain consumption by virtue of the abolition of slavery”.
     Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu saja, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat yang mana dengan pendidikan sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini, secara langsung dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan sangat erat kaitannya dengan suatu konsep yang disebut dengan human capital.
     Melihat begitu pentingnya pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia, menuju bangsa yang punya daya saing sudah sepantasnya tidak terjadi pengurangan sektor pembiayaan pendidikan. Amanat UU sistem pendidikan nasional, peraturan pemerintah (PP) yang menyatakan bahwa pembiayaan pendidikan merupakan tanggung pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat harus dipertahankan. Keterbatasan pembiayaan dari pemerintah pusat dan daerah dapat melibatkan masyarakat agar mutu pendidikan tetap bisa tumbuh dan berkembang.
     Munculnya kaum politisi untuk menghapus peran masyarakat dengan slogan “pendidikan gratis” akan membebani sektor lain dalam APBN/APBD yang unjung-ujungnya akan meminimalisir pembiayaan pendidikan yang berakibat pada penurunan mutu pendidikan itu sendiri. Melihat pelbagai daerah yang sudah menggratiskan biaya pendidikan, sarana prasarana di satuan pendidikan tidak terawat secara baik, kegiatan ekskul yang sangat terbatas serta standar nasional pendidikan yang asal berjalan. Penulis juga melihat dari studi di negara komunis China, masyarakat masih diberi ruang dan tanggung jawab untuk terlibat dalam pembiayaan baik di tingkat dasar maupun menengah demi peningkatan mutu pendidikan.

2
Umum / MENGKAJI KUALITAS LAYANAN AKADEMIK SEKOLAH
« pada: April 06, 2020, 11:35:02 PM »
MENGKAJI KUALITAS LAYANAN AKADEMIK SEKOLAH
Dr. H. Bambang Supriyadi, M.Pd


     Ditengah wabah covid 19 (Corona) yang melanda dunia, marilah kita terus melaksanakan kebijakan pemerintah pysical distancing dan tetap fokus terus berkontribusi dalam dunia pendidikan dengan disiplin ilmunya.
Dewasa ini sekolah harus dipahami sebagai lembaga yang memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat lewat penyediaan layanan kepada para peserta didik. Indikator kualitas layanan organisasi sekolah adalah kepuasan peserta didik dan orang tua peserta didik atas layanan sekolah. Kepuasan peserta didik dan orang tua ini merupakan suatu hal yang menjadi perhatian dalam meningkatkan kualitas pelayanan organisasi sekolah. Salah satu yang paling penting dan mendasar dalam meningkatkan kualitas layanan adalah keputusan yang berkaitan dengan pembelajaran sekolah.
     Kualitas merupakan gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. Dalam konteks pendidikan kualitas merupakan hasil yang bersifat pembelajaran nilai ujian nasional misalnya, dan non pembelajaran olahraga, seni. Maka yang perlu dipertimbangkan dari kendala ini adalah harus memperhitungkan jumlah guru, modul sekolah, bahan, dan energi. Kuantitas hasil sekolah misalnya jumlah peserta didik yang lulus sekolah setiap tahunnya, berapa peserta didik yang lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) atau perguruan tinggi yang diinginkan.
     Efektifitas layanan pembelajaran menggambarkan ukuran yang menyatakan sejauhmana tujuan pembelajaran telah tercapai. Misalnya menentukan nilai ujian nasional ideal. Untuk mencapai ini tentu perlu tenaga pendidik yang ekstra bekerja dengan semangat, namun untuk menumbuhkan semangat, para pendidik tentunya perlu modal yang besar untuk menggaji mereka. Efisiensi layanan pembelajaran dibagi menjadi dua yaitu efisiensi internal dan eksternal. Efisiensi internal adalah hubungan antara produk sekolah (pencapaian hasil belajar) dan masukan (sumber daya) yang digunakan untuk memproses/menghasilkan produk tersebut. Misalnya dengan biaya yang sama nilai ujian nasional tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif yang didapat setelah kurun waktu yang panjang di luar sekolah.
     Sekolah dipandang sebagai lembaga penyedia jasa yang diarahkan untuk dikelola secara profesional dengan memperhatikan aspek kualitas pelayanan jasa seperti : tangibility (fisik sekolah), emphaty (daya tanggap sekolah), reliability (kemampuan sekolah untuk memberikan layanan yang prima), assurance (jaminan dari sekolah untuk dapat memberikan layanan jasa yang berkualitas dan memenuhi harapan internal serta eksternal customer).
     Kualitas pelayanan pembelajaran organisasi sekolah mencakup seluruh kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan indikator mutu layanan pembelajaran antara lain : mutu mengajar guru, kelancaran layanan-layanan belajar mengajar sesuai dengan jadual, umpan balik yang diterima peserta didik mengenai pekerjaannya, layanan keseharian guru terhadap peserta didik, kepuasan peserta didik terhadap layanan mengajar guru, kenyamanan ruang kelas, tersedianya fasilitas belajar, kesempatan peserta didik menggunakan berbagai fasilitas sekolah.
     Mutu mengajar guru ditentukan oleh kiat masing-masing guru dalam proses pembelajarannya. Seorang guru yang profesional akan terukur dari sejauh mana ia menguasai kelas, hingga mengantarkan peserta didiknya mencapai hasil belajar yang optimal. Seorang guru selain sebagai orang yang berperan dalam proses transformasi pengetahuan dan keterampilan, juga berperan memandu segenap proses pembelajaran. Ditangannyalah sebuah peristiwa belajar dapat berlangsung, sehingga ia harus memfasilitasi diri dengan seperangkat pengalaman, keterampilan, pengetahuan keguruan dan menguasai subtansi keilmuan yang diketahuinya. Peserta didik harus diberdayakan agar mengetahui, melakukan sesuatu, mampu dan mau berbuat untuk memperkaya pengalaman belajar serta belajar untuk hidup bersama (how to learn, learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together).
     Layanan belajar mengajar merupakan core business sekolah. Pelaksanaan jadual merupakan indikator penting kelancaran layanan belajar. Peserta didik sepatutnya memperoleh umpan balik yang menyangkut mutu pekerjaannya, seperti hasil ulangan, ujian dan tugas-tugas yang telah dilakukan. Kesediaan guru untuk melayani konsultasi dengan peserta didik sangat penting untuk mengatasi kesulitan belajar. Peserta didik sepatutnya memperoleh umpan balik yang menyangkut mutu pekerjaannya, seperti hasil ulangan, ujian atau tugas-tugas yang telah dilakukannya. Kesediaan guru untuk melayani konsultasi peserta didik sangat penting untuk mengatasi kesulitan belajar. Peserta didik merupakan pelanggan (customer) primer di sekolah oleh karenanya mereka sepatutnya mendapatkan kepuasan atas setiap layanan yang diterimanya di sekolah. Kepuasan yang dirasakan peserta didik akan berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Kenyamanan ruang kelas sebagai tempat belajar harus memenuhi kriteria ventilasi, tata cahaya, kebersihan, kerapihan, dan keindahan sehingga membuat penghuninya merasa nyaman dan aman berada didalamnya. Sekolah sebagai tempat belajar yang lebih baik (“a place for better learning”) sekolah wajib mempunyai fasilitas yang mendukung implementasi kurikulum seperti laboratorium, perpustakaan, fasilitas olahraga dan kesenian. Kesempatan peserta didik menggunakan berbagai fasilitas sekolah. Sesungguhnya sekolah didirikan untuk melayani para peserta didik yang belajar, dan oleh karenanya para peserta didik hendaknya diperlukan sebagai pihak yang harus menikmati penggunaan fasilitas yang tersedia di sekolah.
     Sementara itu di Sekolah Menengah Atas (SMA) banyak dijumpai guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya melaksanakan kewajiban. Ia tidak memerlukan strategi, kiat dan berbagai metode dalam mengajarnya. Baginya yang penting bagaimana sebuah peristiwa pembelajaran dapat berlangsung. Ia merasa tidak perlu membuat perencanaan mengajar, perencanaan dan pengembangan tujuan, pengembangan pesan, dan mengabaikan berbagai evaluasi komprehensif kendati tetap melaksanakan evaluasi sumatif. Ada pula seorang guru dalam pemebelajarannya seolah-olah telah membuat pembaharuan padahal pembaharuan itu hanya dipermukaan saja dan tidak mendasar (subtansial) sehingga sebenarnya pembelajarannyapun masih tetap statis, berifat didaktif (searah) yang sama sekali tidak imajinatif. Dijumpai pula guru yang hanya mempunyai bekal pengetahuan dari bangku kuliah, ia tidak mengembangkan pengetahuan dengan membaca buku yang relevan dari bidang studinya atu secara aktif mengikuti pengembangan profesi keguruan. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dimana pengajar masih memegang peran yang sangat dominan, pengajar banyak ceramah (telling method) dan kurang membantu pengembangan aktivitas murid.
     Masih banyak guru yang tidak memperhatikan kelancaran layanan pembelajaran dilihat dari segi waktu masuk kegiatan belajar mengajar, target pencapaian standar ketuntasan belajar minimal, dan target kurikulumnya. Pengembalian hasil-hasil pekerjaan peserta didik kurang diperhatikan seperti tugas-tugas dan hasil ulangan umum peserta didik. Kurangnya perhatian untuk melayani peserta didik yang ingin berkonsultasi. Demikian pula terhadap penyediaan dan penggunaan sarana prasarana sekolah serta kenyamanan ruang belajar peserta didik. Banyak sekolah yang belum mempunyai pandangan bahwa sesungguhnya pelayanan terhadap peserta didik merupakan satu hal yang harus dinomorsatukan terhadap penggunaan seluruh fasilitas sekolah.
     Masalah lain yang terjadi pada dunia pendidikan diantaranya, sistem mendidik yang efektif dan efisien yaitu pendidikan diusahakan memperoleh hasil baik dengan dana dan waktu sedikit. Mutu pendidikan yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin bertambahnya jumlah dan kebutuhan pendidikan berakibat pelaksanaan pendidikan belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan kurang sesuainya antara materi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Alat dan media pembelajaran yang masih kurang serta serba terbatas dan masih cenderung mahal sehingga susah untuk mendapatkannya.

1. Pengertian Kualitas

   Kualitas merupakan topik yang sangat menarik untuk dikaji dalam dunia pembelajaran. Pengertian kualitas implementasinya dalam organisasi sekolah, bahwa untuk menjaga hubungan antara produk organisasi pendidikan dan pengguna jasa pendidikan perlu dilengkapi dan berikan pengertian, kualitas organisasi (dalam hal ini secara umum kualitas pelayanan sekolah dan secara khusus kualitas pelayanan pembelajaran sekolah) serta bagaimana hubungan persepsinya. Sehubungan kekomplekan kualitas yang terkait dengan persepsi, standar kualitas, maka sebelum membahas lebih jauh tentang kualitas pelayanan pembelajaran sekolah terlebih dahulu perlu memahami makna yang terkandung dalam suatu kata kualitas dan manajemen kelas menurut beberapa ahli.
   Kualitas adalah kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi/melebihi harapan. Lebih lanjut dikatakan kualitas diaanggap sebagai ukuran relatif kesempurnaan/kebaikan sebuah produk/jasa yang terdiri atas kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Kualitas desain merupakan fungsi spesifik produk, sedangkan kualitas kesesuaian adalah ukuran seberapa besar tingkat kesesuaian antara sebuah produk/jasa dengan persyaratan/spesifikasi kualitas yang ditetapkan sebelumnya.

2  Kualitas Layanan Akademik Sekolah

   Kualitas pelayanan sangat penting pada organisasi sekolah karena pada dasarnya sekolah dapat dilihat sebagai industri jasa. Salah satu yang dapat membedakan satu sekolah dengan sekolah yang lain adalah cara memberikan pelayanan dengan kualitas lebih tinggi. Banyak pendapat para ahli tentang pentingnya kualitas pelayanan antara lain :
   Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan pelanggan.
   Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu pelayanan yang diterima dan pelayanan yang diharapkan. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa apabila pelayanan yang diterima atau yang dirasakan sesuai dengan yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan demikian pula sebaliknya.
   Kualitas pelayanan harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini berarti bahwa kualitas yang baik tidak berdasarkan persepsi penyedia jasa, melainkan berdasarkan persepsi pelanggan. Persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan merupakan penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu pelayanan.
   Demensi Kualitas Pelayanan Pembelajaran Sekolah:

Tabel
Kualitas Pelayanan Pembelajaran Sekolah

Indikator
Dimensi
ATangibles (berwujud)Ketersedianya Kurikulum Nasional
Adanya Pengembangan Kurikulum
Lokal (sekolah) buku Sumber Belajar
Media Pembelajaran
BReliability (keandalan)Prosentase daya serap kurikulum Pembelajaran yang tepat waktu Pembelajaran tidak pilih kasih (adil dalam pelayanan)
CResponsiveness (keresponsiapanPembelajaran yang menyenangkan.Ketepatan menggunakan metode pembelajaran.
DCompetence (Pengetahuan & keterampilan)Mampu menjalankan tugas.Terampil terhadap pekerjaan
ECourtesy (perilaku)Ramah dan bersahabat Tanggap terhadap konsumen
FCredibility (kejujuran)Kejujuran dalam bekerja Amanah dalam menjalankan tugas
GSecurrity (keamanan)Jaminan pelayanan Kelangsungan Belajar peserta didik (survival rate) Memberi jaminan kompetensi out put
H Access (kemudahan hubungan)Memberikan pelayanan  pengaduan. Pendekatan menyeluruh
ICommunications  (komunikasi)Mampu berkomunikasi  dalam menyampaikan materi pelajaran. Rajin memberitahu masalah yang baru (actual).
J Understanding the customer (mengerti kebutuhan peserta didik dan masyarakat) Mengetahui Kebutuhan Peserta didik Memberi layanan yang sesuai dengan tuntutan peserta didik

Model pengembangan kualitas layanan akademik sekolah akan berhasil untuk meningkatkan mutu sekolah apabila kepala sekolah menerapkan manajerial dan kepemimpinannya dengan baik, meningkatkan kompetensi diri dan mempunyai kecerdasan emosional serta pengembangan budaya sekolah secaraberkelajutan dan berorientasi pada pelanggan (customer satisfaction). Didukung kualitas guru yang dihasilkan dari proses rekrutmen pendidikan guru yang berkualitas (LPTK). Peran pemerintah untuk bisa memprediksi kebutuahan guru serta mengawali dengan merekrut calon mahasiswa yang akan menekuni profesi guru dengan baik. Pembiaran semua pendidikan tinggi untuk menghasilkan calon guru akan berdampak sangat negatif bagi dunia pendidikan, seperti dewasa ini. Bukankan manajemen harus diawali dengan rekrutmen ?


SUMBER BACAAN

Bush, Tony. (2016). Theories of Educational Management. Washington DC : The Falmer Press.

Butler, Jocelyn A., Kate M. Dickinson. (2017). Improving School Culture, School Improvement Research Series, www.nwrl.org (7 Agustus 2009)

Covey, S.R. (2015). Principle Centred Leadership (Kepemimpinan Yang Berprinsip), Terjemahan. Jakarta : Binarupa Aksara.



3
Umum / Workshop Penyusunan Kisi kisi USBN SMA 2018/2019 13 Februari 2019
« pada: Juli 26, 2019, 08:11:41 AM »

4
Umum / Umroh Bersama MKKS SMA 13 Des 2017
« pada: Juli 26, 2019, 08:10:32 AM »

7
Umum / Rapat Koordinasi Kepsek & Pengawas Wil 1 Di Bogor 11 april 2017
« pada: Juli 26, 2019, 08:04:59 AM »

8
Umum / Prestasi yang pernah diraih MKKS SMA Kab Bogor
« pada: Juli 26, 2019, 08:03:34 AM »

9
Umum / Pengukuhan Pengurus MKKS SMA Kab Bogor 15 Desember 2018 di Bogor
« pada: Juli 26, 2019, 08:01:15 AM »

10
Umum / Keg OSN 2019 Di Manado Tgl 2 - 3 Juli
« pada: Juli 26, 2019, 07:59:39 AM »

Halaman: 1